Helen Keller: Kegelapan dan Kesunyian Menyelimuti Sepanjang Hidupnya

Hidup menghadapkan kita dengan segala macam rintangan. Keberhasilan melewatinya ditentukan oleh ketangguhan dan kesabaran. Namun, kadang orang butuh inspirasi untuk terus menghidupkan semangat juang. Oleh karena itu, dunia selalu membutuhkan sosok-sosok teladan yang membuktikan bahwa tak ada tantangan yang tak dapat luruh. Salah satu sosok luar biasa dan inspiratif itu adalah Helen Keller. Lahir tahun 1880, penyakit yang dideritanya pada usia 19 bulan membuatnya kehilangan penglihatan dan pendengaran. Pernahkah anda membayangkan akan dunia yang gelap dan sunyi? Beliau merasakannya selama 87 tahun. Dan hanya mengandalkan  indra perasa dan penciuman.  Ia jadi liar dan tidak dapat diajar pada usia 7 tahun, sehingga orang tuanya bertemu Johanna (Anne) Mansfeld Sullivan Macy untuk menjadi guru pribadi dan mentor. Annie memegang tangan Helen di bawah air dan dengan bahasa isyarat, ia mengucapkan “A-I-R” pada tangan yang lain. Saat Helen memegang tanah, Annie mengucapkan “T-A-N-A-H” dan ini dilakukan sebanyak 30 kata per hari.

Kebutaan dan ketulian tak memadamkan semangat hidup dan keingintahuan Helen. Berkat jasa sang guru, Annie Sullivan, bakat dan kecerdasan Helen pun mekar tak terbendung oleh cacatnya. Dia menulis cerita pertamanya pada usia 12 tahun, dan merupakan penderita buta-tuli pertama yang meraih gelar B.A. Helen kemudian menjadi seorang pembicara dan penulis ternama, dan sebagai aktivis dia berkeliling dunia untuk menentang penindasan perempuan, perang, dan eksploitasi atas kelas pekerja.

Helen diajar untuk membaca lewat huruf braille sampai mengerti apa maksudnya. Helen menulis, “Saya ingat hari yang terpenting di dalam seluruh hidup saya adalah saat guru saya, Anne Mansfield Sullivan, datang pada saya.” Dengan tekun, Annie mengajar Helen untuk berbicara lewat gerakan mulut, sehingga Helen berkata, “Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.” Ia belajar bahasa Perancis, Jerman, Yunani dan Latin lewat braille. Pada usia 20 tahun, ia kuliah di Radcliffe College (cabang Universitas Harvard), khusus wanita. Annie menemani untuk spell textbooks, huruf demi huruf, yang diletakkan ke tangan Helen. Hanya 4 tahun, Helen lulus dengan predikat magna cum laude

 

Sosok seperti Helen Keller dikenal dunia sebagai simbol keberanian menaklukkan kesulitan yang memuncak. Namun, dia lebih daripada sebuah simbol. Dia membaktikan hidupnya untuk menolong orang lain. Pencapaiannya merupakan hasil kerja samanya dengan seorang guru penyabar dan tangguh. Kisah kehidupan Helen Keller yang disajikan dalam buku ini dapat menjadi inspirasi siapa pun yang tak ingin tunduk oleh keterbatasan dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s